Kadang disaat kita telah
menemukan seseorang ; seseorang yang juga telah menemukan kita, penyesalan
menghampri, entah penyesalan karena kita menemukan yang salah atau penyesalan
karena sebuah kesalahan kita ; kesalahan yang berdampak lama. Bagaimana mengakhirinya...?
Aku gadis remaja berumur 16 tahun
yang masih belia untuk mengenal cinta, masih rentan merasakan sakit hati, tapi
aku ingin mengenal nya. Aku sedang dekat dengan seseorang yang telah ku anggap
dia moodboster ku, setiap dengar
namanya jantung ku berdetak tidak karuan- karena aku menyukainya. Pria dengan
tubuh kurus, tinggi, anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang baik, berambut lurus, gamers, pintar matematika,
dan ia selalu membuatku nyaman di dekatnya. Aku dan dia sudah mengakui bahwa
kita saling menyukai mungkin sekarang rasa suka itu berubah menjadi sayang.
Kedekatan kami sudah berusia
sekitar 5 bulan, tapi aku semakin sakit, bukan karena dia menyakitiku bukan
karena sikap nya yang membuatku muak. Tapi....kedekatan kami tidak memiliki
status. Aku takut apa yang ada di benak ku terjadi, bahwa mungkin suatu saat ia
tiba-tiba meninggalkanku untuk bersama perempuan yang lain dan menegaskan bahwa
kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa, itu sangat sakit dan aku selalu
berdoa hal itu jangan pernah terjadi padaku. Walaupun sampai saat ini kamu
tidak seperti itu. Aku dan dia seperti pasangan special tapi nyatanya tidak ada
hubungan special diantara kami. Padahal dia selalu memanggilku dengan kata-kata
manis dan selalu membuatku tersenyum. Aku percaya dia pria yang baik dan
nyatanya itu benar. Salahku memang ketika dulu kamu menyatakan perasaan mu dan
menanyakan apakah aku mau jadi pacarmu lalu kubilang “Belajar dulu baru
pacarann hehehe”, Munafik! bodoh! Kesempatan tak akan pernah datang kedua
kalinya. Tapi aku sedikit lega karena
sebelumnya aku mengaku bahwa aku juga menyukaimu, mungkin saat itu aku
terlalu takut akan sakit hati tidak mau pusing dengan soal asmara dan aku egois
mementingkan kesibukan ku. MAAFFFF....
Aku tahu betul bagaimana sifat
nya,dia sangat baik tapi dia cuek, rajin mungkin lebih rajin dari ku, tidak
terlalu romantis, tidak peka, orang sibuk, dan dia terkadang sensitiv aku
mengerti semua dan aku tahu bagaimana aku harus bersikap. Tapi haruskah aku
yang selalu mengerti nya ; mengerti sifat dan perasaan nya. Lalu aku bagaimana?
Dia tidak mengerti perasaan ku tapi aku sadar dia memang sangat cuek dan aku
hanya harus sabar. Tapi bukankah kesabaran itu ada batasnya? Aku juga manusia
aku perempuan. Sempat aku marah padamu karena mungkin fikiran ku sedang kacau
dan kamu masih pada sifat cuek mu, 1 hari aku menangkan fikiran dan hatiku
dengan menangis itulah wanita walaupun menangis memang tidak menyelesaikan
masalah setidaknya aku merasa lebih tenang. Dia pun tidak peka kalau aku sedang
marah dan dia bersikap seperti biasanya tapi esok nya dia menghubungi ku dan
sadar akan kecuekan ku yang tidak seperti biasanya, dan aku mencoba jujur aku
berkata bahwa dia tidak pernah mengerti perasaan ku, dia hanya meminta maaf
tapi kukira dia akan menanyai hal kenapa aku berkata seperti itu tapi nayatanya
dia hanya meminta maaf dan membahas hal yang sangat sederhana. Aku harus sabar
lagi ternyata.
Sekarang aku mencoba menjalani
keputusan ku itu, walau banyak pikiran negative tentang mu di benak ku tapi
kucoba untuk menggubrisnya. Ketakutan itu semakin menghantui ku, sempat
terfikir aku akan menjauhi mu tapi nyatanya aku tak bisa. Harus bagaimana
lagi????
Haruskah aku selalu memberi mu kode agar kamu tau aku mengingkan kejelasan, baru sedikit saja aku membahas hubungan, kamu membalas dengan pertanyaan lain.
Haruskah aku selalu memberi mu kode agar kamu tau aku mengingkan kejelasan, baru sedikit saja aku membahas hubungan, kamu membalas dengan pertanyaan lain.
memang sepertinya kita saling
takut untuk memperjelas hubungan ; takut karena mungkin tidak seperti yang aku
atau kamu inginkan atau takut karena aku akan marah dan benci padamu bahwa nyatanya
kamu tidak memiliki rasa seperti dulu.