Senin, 16 September 2013

Kau Namakan Apa Kita


Kadang disaat kita telah menemukan seseorang ; seseorang yang juga telah menemukan kita, penyesalan menghampri, entah penyesalan karena kita menemukan yang salah atau penyesalan karena sebuah kesalahan kita ; kesalahan yang berdampak lama. Bagaimana mengakhirinya...?
Aku gadis remaja berumur 16 tahun yang masih belia untuk mengenal cinta, masih rentan merasakan sakit hati, tapi aku ingin mengenal nya. Aku sedang dekat dengan seseorang yang telah ku anggap dia moodboster ku, setiap dengar namanya jantung ku berdetak tidak karuan- karena aku menyukainya. Pria dengan tubuh kurus, tinggi, anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang baik,  berambut lurus, gamers, pintar matematika, dan ia selalu membuatku nyaman di dekatnya. Aku dan dia sudah mengakui bahwa kita saling menyukai mungkin sekarang rasa suka itu berubah menjadi sayang.
Kedekatan kami sudah berusia sekitar 5 bulan, tapi aku semakin sakit, bukan karena dia menyakitiku bukan karena sikap nya yang membuatku muak. Tapi....kedekatan kami tidak memiliki status. Aku takut apa yang ada di benak ku terjadi, bahwa mungkin suatu saat ia tiba-tiba meninggalkanku untuk bersama perempuan yang lain dan menegaskan bahwa kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa, itu sangat sakit dan aku selalu berdoa hal itu jangan pernah terjadi padaku. Walaupun sampai saat ini kamu tidak seperti itu. Aku dan dia seperti pasangan special tapi nyatanya tidak ada hubungan special diantara kami. Padahal dia selalu memanggilku dengan kata-kata manis dan selalu membuatku tersenyum. Aku percaya dia pria yang baik dan nyatanya itu benar. Salahku memang ketika dulu kamu menyatakan perasaan mu dan menanyakan apakah aku mau jadi pacarmu lalu kubilang “Belajar dulu baru pacarann hehehe”, Munafik!  bodoh!  Kesempatan tak akan pernah datang kedua kalinya. Tapi aku sedikit lega karena  sebelumnya aku mengaku bahwa aku juga menyukaimu, mungkin saat itu aku terlalu takut akan sakit hati tidak mau pusing dengan soal asmara dan aku egois mementingkan kesibukan ku. MAAFFFF....
Aku tahu betul bagaimana sifat nya,dia sangat baik tapi dia cuek, rajin mungkin lebih rajin dari ku, tidak terlalu romantis, tidak peka, orang sibuk, dan dia terkadang sensitiv aku mengerti semua dan aku tahu bagaimana aku harus bersikap. Tapi haruskah aku yang selalu mengerti nya ; mengerti sifat dan perasaan nya. Lalu aku bagaimana? Dia tidak mengerti perasaan ku tapi aku sadar dia memang sangat cuek dan aku hanya harus sabar. Tapi bukankah kesabaran itu ada batasnya? Aku juga manusia aku perempuan. Sempat aku marah padamu karena mungkin fikiran ku sedang kacau dan kamu masih pada sifat cuek mu, 1 hari aku menangkan fikiran dan hatiku dengan menangis itulah wanita walaupun menangis memang tidak menyelesaikan masalah setidaknya aku merasa lebih tenang. Dia pun tidak peka kalau aku sedang marah dan dia bersikap seperti biasanya tapi esok nya dia menghubungi ku dan sadar akan kecuekan ku yang tidak seperti biasanya, dan aku mencoba jujur aku berkata bahwa dia tidak pernah mengerti perasaan ku, dia hanya meminta maaf tapi kukira dia akan menanyai hal kenapa aku berkata seperti itu tapi nayatanya dia hanya meminta maaf dan membahas hal yang sangat sederhana. Aku harus sabar lagi ternyata.
Sekarang aku mencoba menjalani keputusan ku itu, walau banyak pikiran negative tentang mu di benak ku tapi kucoba untuk menggubrisnya. Ketakutan itu semakin menghantui ku, sempat terfikir aku akan menjauhi mu tapi nyatanya aku tak bisa. Harus bagaimana lagi????
Haruskah aku selalu memberi mu kode agar kamu tau aku mengingkan kejelasan, baru sedikit saja aku membahas hubungan, kamu membalas dengan pertanyaan lain.
memang sepertinya kita saling takut untuk memperjelas hubungan ; takut karena mungkin tidak seperti yang aku atau kamu inginkan atau takut karena aku akan marah dan benci padamu bahwa nyatanya kamu tidak memiliki rasa seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar